Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
HomeOur HomeDec 13, 2005
Assalamualaikum,

Welcome to Our Home. The place where we can meet virtually and the place where we can discuss about anything ; Live, Children, School, Books, Films, Recipes etc......etc.....

Alhamdulillah berkat usaha di sela sela kesibukan sebagai Ibu rumah tangga, pelajar, atau pekerja di mancanegara, kami tetap istiqomah, menuliskan rangkaian kata demi kata, mengukir himbauan dan ajakan untuk selalu berpegang pada ajaranNya.

InsyaAllah, bulan Juni buku ACIKITA ke delapan ini akan terbit.
Peluncuran dan diskusi buku akan di adakan di Indonesia di beberapa kota, dan negara InsyaAllah).

Alhamdulillah,.. hari demi hari, bulan dan tahun,
supporter dan dukungan terhadap
ACIKITA (http://www.aci-foundation.org) makin bertambah.
Puji syukur pada Allah. Semoga perjuangan untuk kemajuan,
kenyamanana, dan kedamaian di negeri tercinta, terwujud suatu saat.

*****

Meraih Cinta-Nya
(Perjuangan Hidup Sebagai Muslim di Manca Negara untuk
Menegakkan Dien-Nya)

++ Bahasan singkat, Berbagai Informasi Serta Link Penting
Terkait Kehidupan Muslim di Luar Negeri, diantara penulisnya ada 2 orang anggota KPMI.

Ninda Harahap (Belgia)
Jumiarti Agus (Tokyo, Jepang)
Mira Suprayatmi (Jerman)
Nurhalita Diny (Korea)
Rina Fitriana (Jepang)
Yuli Hastadewi (Detroit, Amerika)
Mulla Kemalawaty (Tokyo, Jepang)
Yeni Mulia (Norwegia)
Sri Zein (Tokyo, Jepang)
Dwi Indah lestari (Austria)
Nengsi Rova (Houston, Amerika)
Irawati Prillia (Jerman)
Desti J. Basuki (Toronto, Kanada)

Kata Pengantar Penulis

Ada rasa cemas ketika kaki hendak melangkah ke negeri
orang, untuk suatu garis hidup yang ditetapkan Sang
pencipta. Berbagai pertanyaan muncul di kepala. Adakah di
sana kenyamanan untuk seorang Muslim dan Muslimah
berjilbab? Apakah saya bisa melaksanakan salat dan ibadah
lainnya di sana? Adakah mesjid dan forum pengajian? Apakah
di sana ada restoran dan makanan halal? Dan beragam
pertanyaan lainnya berkecamuk di kepala, termasuk masalah
takut diasingkan sebagai golongan minoritas (sebagai
muslim).

Di dalam buku ini Anda akan menemukan jawaban dari semua
kegelisahan di atas. Para penulis yang tinggal di
mancanegara, menuturkan pengalamannya selama tinggal di
negeri asing sebagai kaum minoritas. Mulai dari atmosfir
penerimaan oleh warga setempat pada masa adaptasi hingga
bisa berdampingan hidup di sana. Berbagai perjuangan dan
kiat survive mereka untuk bisa menegakkan dien dan meraih
cintaNya, dipaparkan di dalam buku ini.

Buku yang kaya informasi, semangat dan perjuangan hidup.
Sungguh sangat menginspirasi segenap muslim untuk
menjalankan perintah-Nya. Buku yang berisi penuturan
tentang informasi kehidupan muslim di Jepang, Kanada,
Amerika, Belgia, Jerman, Norwegia, Austria, Brunei, dan
Korea ini, memberikan keterangan yang sebenarnya tentang
perjuangan hidup para penulisnya di negeri asing serta
kiat survive hidup di sana.

Buku ini sangat baik dibaca oleh masyarakat Indonesia,
oleh mereka yang akan berjuang dan tinggal di negeri orang
dan juga oleh mereka yang menetap di negeri orang sebagai
penyemangat untuk selalu mertahankan kaidah agama untuk
meraih Cinta-Nya.

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kepada Allah
yang telah merestui kami untuk berbagi kepada Anda
semuanya. Terimakasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi untuk terwujudnya karya ini.

Semoga bermanfaat

ddd
dThumbnaild
ddd
Alhamdulillah berkat usaha di sela sela kesibukan sebagai Ibu rumah tangga, pelajar, atau pekerja di mancanegara, kami tetap istiqomah, menuliskan rangkaian kata demi kata, mengukir himbauan dan ajakan untuk selalu berpegang pada ajaranNya.

InsyaAllah, bulan Juni buku ACIKITA ke delapan ini akan terbit.
Peluncuran dan diskusi buku akan di adakan di Indonesia di beberapa kota, dan negara InsyaAllah).

Alhamdulillah,.. hari demi hari, bulan dan tahun,
supporter dan dukungan terhadap
ACIKITA (http://www.aci-foundation.org) makin bertambah.
Puji syukur pada Allah. Semoga perjuangan untuk kemajuan,
kenyamanana, dan kedamaian di negeri tercinta, terwujud suatu saat.

*****

Meraih Cinta-Nya
(Perjuangan Hidup Sebagai Muslim di Manca Negara untuk
Menegakkan Dien-Nya)

++ Bahasan singkat, Berbagai Informasi Serta Link Penting
Terkait Kehidupan Muslim di Luar Negeri, diantara penulisnya ada 2 orang anggota KPMI.

Ninda Harahap (Belgia)
Jumiarti Agus (Tokyo, Jepang)
Mira Suprayatmi (Jerman)
Nurhalita Diny (Korea)
Rina Fitriana (Jepang)
Yuli Hastadewi (Detroit, Amerika)
Mulla Kemalawaty (Tokyo, Jepang)
Yeni Mulia (Norwegia)
Sri Zein (Tokyo, Jepang)
Dwi Indah lestari (Austria)
Nengsi Rova (Houston, Amerika)
Irawati Prillia (Jerman)
Desti J. Basuki (Toronto, Kanada)

Kata Pengantar Penulis

Ada rasa cemas ketika kaki hendak melangkah ke negeri
orang, untuk suatu garis hidup yang ditetapkan Sang
pencipta. Berbagai pertanyaan muncul di kepala. Adakah di
sana kenyamanan untuk seorang Muslim dan Muslimah
berjilbab? Apakah saya bisa melaksanakan salat dan ibadah
lainnya di sana? Adakah mesjid dan forum pengajian? Apakah
di sana ada restoran dan makanan halal? Dan beragam
pertanyaan lainnya berkecamuk di kepala, termasuk masalah
takut diasingkan sebagai golongan minoritas (sebagai
muslim).

Di dalam buku ini Anda akan menemukan jawaban dari semua
kegelisahan di atas. Para penulis yang tinggal di
mancanegara, menuturkan pengalamannya selama tinggal di
negeri asing sebagai kaum minoritas. Mulai dari atmosfir
penerimaan oleh warga setempat pada masa adaptasi hingga
bisa berdampingan hidup di sana. Berbagai perjuangan dan
kiat survive mereka untuk bisa menegakkan dien dan meraih
cintaNya, dipaparkan di dalam buku ini.

Buku yang kaya informasi, semangat dan perjuangan hidup.
Sungguh sangat menginspirasi segenap muslim untuk
menjalankan perintah-Nya. Buku yang berisi penuturan
tentang informasi kehidupan muslim di Jepang, Kanada,
Amerika, Belgia, Jerman, Norwegia, Austria, Brunei, dan
Korea ini, memberikan keterangan yang sebenarnya tentang
perjuangan hidup para penulisnya di negeri asing serta
kiat survive hidup di sana.

Buku ini sangat baik dibaca oleh masyarakat Indonesia,
oleh mereka yang akan berjuang dan tinggal di negeri orang
dan juga oleh mereka yang menetap di negeri orang sebagai
penyemangat untuk selalu mertahankan kaidah agama untuk
meraih Cinta-Nya.

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kepada Allah
yang telah merestui kami untuk berbagi kepada Anda
semuanya. Terimakasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi untuk terwujudnya karya ini.

Semoga bermanfaat.

Blog EntryFeb 9, '10 9:20 AM
for everyone

Sejak bulan September 2009 yang lalu, setelah mempertimbangkan berbagai hal dan diskusi dengan anak-anak, aku dan suami akhirnya memutuskan anak-anak untuk tukar sekolah. Awalnya mereka bersekolah di sekolah lokal yang berbahasa prancis dan sekarang sekolah di British School.

6 minggu setelah mereka masuk, tibalah report day, dimana orangtua murid  dan guru bertemu untuk mengevaluasi progress anak-anak. Alhamdulillah, anak-anak tidak mengalami masalah untuk beradaptas,i baik dengan teman maupun dari segi bahasa.

Karena bahasa Inggris adalah bahasa kedua untuk anak-anak kami (atau bahasa ketiga,setelah bahasa Indonesia dan bahasa Prancis) sekolah memberi mereka pelajaran bahasa Inggris tambahan agar mereka bisa cepat menyamai kemampuan bahasa Inggris teman-teman sekelasnya.  Setiap hari mereka membawa buku untuk mereka baca di rumah.

Aliyah, anak kami yang pertama  yang berusia 8 tahun,adalah seorang kutu buku. Dia sangat hobi membaca.

Amirah, anak kedua kami  yang berusia hampir 7 tahun sangat hobi menulis.

Awal-awal mereka sekolah, aku, mamanya banyak sekali membantu mereka. Karena banyak kata-kata di buku yang mereka tidak tau artinya dan juga terkadang tidak tau cara membacanya.

Sejak awal bulan ini, mulai terasa bahwa mereka sekarang lebih banyak tau kosakata dan juga lebih fasih melafalkannya dalam bahasa Inggris.

Kalau mau tidur dan  mereka minta aku untuk baca story telling dari buku yang mereka pilih. Mulai lah......mereka bolak balik mengkoreksi apa yang aku baca. "bukan gitu ma bacanya, tapi kayak gini" sambil mereka mencontohkan.

Dan Amirah si hobi menulis, sangat gandrung dengan spellling test. Gitu ada waktu senggang, dimanapun dan kapanpun dia pasti minta spelling test.  Aku menyebutkan satu kata, dan dia tulis, setelah 30 kata, hasil test kami periksa bersama.  Dan tau gak.....kalau ada yang salah, contohnya: aku bilang dia harus menulis "sad" tapi  dia nulis "said" atau aku suruh menulis "where" dia tulis "were". Dia protes dan bilang kayak gini " loh, mama gak bener bilangnya. Harusnya kan bilang "sad" dan dia menyebutkan kata tersebut dan logat dan aksen british yang kental.

Oh.....ternyata anak-anakku udah jauh lebih pintar dari mamanya. Dan setiap mereka ngobrol berdua, aku dan suami suka senyum-senyum, secara muka melayu tapi ngobrol dengan logat british.

Pokoknya, gitu Altaf (anak ketiga kami) masuk sekolah bulan April nanti, aku akan kursus untuk memperbaiki bahasa Inggris dan bahasa Prancisku.


Blog EntryJan 18, '10 3:57 AM
for everyone

Kayaknya topik ngerjain sendiri urusan rumah tangga atau punya prt, selalu hangat untuk dibicarakan. Dulu rasanya gak mungkin hidup tanpa prt. Aku ingat, ketika masih single dan bekerja full time, punya 2 orang prt. Padahal yang tinggal di rumah hanya aku dan adikku yang mahasiswi. Sebenarnya satu prt aja cukup, tapi kalau cuma satu orang, si prt itu gak betah, karna gak punya kawan kalau aku lagi kerja dan adikku kuliah. Daripada bolak balik tukar prt (yang kadang belum tentu bisa kerja, kadang kurang jujur) akhirnya diputuskan untuk punya 2 prt. 

Setelah menikah dan meninggalkan tanah air untuk ikut ke tempat suami bertugas, untuk sementara gak punya prt. Melepaskan status sebagai wanita karier dan menjalankan tugas mulia sebagai ibu rumah tangga. Terus terang, 6 bulan pertama betul-betul berat. Dari mulai belanja, masak, bersihkan rumah, nyetrika. Rasa-rasanya kok kerjaan di rumah gak ada habisnya ya.

Ketika anak pertama lahir dan berusia 3 bulan, kami putuskan untuk punya prt yang kami ambil melalui agen. Karena sesuatu dan lain hal, prt itu hanya bekerja 2 bulan bersama kami dan dia kami kembalikan ke agen. Sesuai peraturan, kami masih boleh mengambil prt lagi dari agen tersebut tanpa dikenai biaya admistrasi.

Aku bikin daftar seberapa perlu keluarga kami punya prt , sebelum memutuskan untuk ambil prt dari agen tersebut.

Butuh :

1. Ada yang bantuin urusan rumah tangga

 

Ada beberapa hal yang kadang jadi beban kalau punya prt (terutama di luar negri)

1. Kurang punya privasi, terutama buat mereka  yang tinggal di apartemen yang tidak terlalu besar seperti kami

2. Kalau pas liburan panjang dan pulang ke tanah air, jadi bingung sendiri, si prt mau gimana. Di rumah sendirian sampe 6 minggu, kok kayaknya gak mungkin. Mau dititip di teman juga kok jadi ngerepotin.

3.Harus bayar pajak yang cukup tinggi ke pemerintah setempat.

Akhirnya setelah membuat daftar tersebut, kami putuskan untuk tidak punya prt.

Keuntungan gak punya prt:

1. Punya privasi

2. Mau liburan seminggu, sebulan, dua bulan ( ini sih kelamaan kalo 2 bulan|) tinggal kunci pintu, beres. Gak ada beban

3. Anak-anak dididik sesuai cara kami tanpa ada intervensi dari orang lain.

4. Anak-anak jadi mandiri.

5. Kemampuan memasak mamanya anak-anak juga terasah

Dan sekarang sudah hampir 11 tahun, aku menjadi work at home mom dan ternyata menyenangkan loh...........

 

 

 

 

 

 

 


Blog EntryJan 10, '10 4:05 AM
for everyone

Kayaknya udah lama sekali gak posting di MP. Sejak ber-FB, kok sedikit melupakan MP ya. Harusnya walaupun ada yang baru, yang lama tidak boleh dilupakan.Buka MP kalau pas perlu ide untuk masak lauk atau kue atau dessert. Padahal banyak yang bisa di-share, resep, cerita, foto dll.

Kembali ke Multiply


ddd
dThumbnaild
ddd
Anak-Anak Multibahasa”
(Pengalaman Para Ibu Membesarkan Anak dalam Banyak Bahasa
dengan Tetap Memelihara Bahasa Indonesia)

++ Bahasan Terkait dan Tips Praktis Bermultibahasa


Penulis : Santi Dharmaputra, Jumiarti Agus, Ninda Harahap, Cahayahati, Mieke Nurmalasari, Rita Diana Najib, Yuli Nava, Rose F. Nakamura, dan Hani Iskadarwati
Penerbit : Aku Cinta Indonesia Publishing
Setting/Layout : ACI Publishing
Desain Sampul : Relasi Inti
Editor : Santi Dharmaputra, Jumiarti Agus
Cetakan Pertama : Juni 2009
Jumlah Halaman : xxii +220 halaman
Kategori Buku : Non Fiksi/Ilmiah
ISBN : 978-979-16415-5-5

"Saya bersyukur (karena) lahirnya buku ini (merupakan) suatu hal yang berharga dari segi linguistik, sosial, kultural maupun eksistensi bangsa". Prof. DR. H. Arief Rachman, M.Pd., Tokoh Pendidikan, Guru Besar Universita Negeri Jakarta.


SINOPSIS
Sembilan perempuan Indonesia yang sedang atau pernah tinggal di luar negeri, ataupun yang menikah dengan pasangan bangsa lain, membagi kisah sukses mereka dalam membesarkan anak multibahasa.

Bab pertama sampai bab kesembilan merupakan antologi. Formasi bahasa keluarga dari masing-masing penulis yang saling berbeda membuat kisah mereka menarik dan menggigit. Tempat bermukim para penulis yang tersebar di Jerman, Jepang, Belgia, Indonesia, Thailand, dan Amerika Serikat juga memberikan keunikan tersendiri karena setiap negara memiliki kebudayaan dan sistem pendidikan masing-masing, yang mempengaruhi cara para penulis menerapkan cara bermultibahasa dalam keluarga.

Kisah mereka didukung oleh pendapat ahli yang dibeberkan pada bab 10, mengenai makna bahasa ibu dan pentingnya konsistensi dalam menerapkan strategi bermultibahasa. Pada bab 11 dan 12 dijelaskan secara rinci tips praktis dan mudah untuk membimbing Anda saat membesarkan anak dalam bahasa ibu dan bahasa asing.

Bagaimana cara mereka terus mempertahankan Bahasa Indonesia (bahasa nasional) dan bahasa daerah diantara derasnya masukan bahasa setempat? Silahkan simak buku ini.

SIAPA SAJA PEMBACA BUKU INI?
Buku ini sangat cocok bagi para orangtua yang ingin atau sedang membesarkan anak dalam multibahasa, pemerhati topik membesarkan anak, pendidik, pencinta bahasa, atau siapapun yang ingin membaca buku untuk menambah wawasan.

DI MANA BUKU INI BISA DIBELI?
Buku bisa didapatkan (sekitar awal Juli 2009) :

Di toko buku dan Gramedia di kota anda,
atau menghubungi ACI Publishing. Kontak : Rahmi 0852-2100-5337, acipublishing@yahoo.co.id


PESAN PENERBIT
Terimakasih atas bantuan semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan buku ini, dan kepada Anda yang membeli. Nominal tertentu dari harga buku akan ikut membantu pendidikan anak jalanan, suatu proyek yang sedang direalisasikan oleh ACI. Semoga mereka mendapatkan kesempatan lebih baik untuk meraih masa depan. Amin.

RecipeOct 27, '08 6:17 AM
for everyone
Category:   Baking
Style:   Other
Special Consideration:   Quick and Easy

Description:
Ini kue mendadak bikin pas kemaren pas acara ulang tahun Aliyah. Sambil anak-anak main, aku buru-buru bikin. Hasilnya oke juga loh. Untuk atas/hiasannya bisa pakai apa aja. Aku pakai marsipan yang dikasih pewarna merah dan dibulatkan kecil-kecil

Ingredients:
125 gram mentega
125 gram gula pasir
2 telur
125 gram terigu
2 sdm susu cair
2 sdm coklat bubuk

Directions:
Panaskan oven 190 derjat
Kocok mentega dan gula sampai lembut
Tambahkan telur dan kocok sampai tercampur rata
Tambahkan terigu dan coklat bubuk, aduk rata menggunakan mixer yang paling lambat.
Tambahkan susu.
Masukkan ke dalam cetakan cup cake.
Panggang 20 menit.


RecipeOct 21, '08 3:45 AM
for everyone
Category:   Baking
Style:   Other
Special Consideration:   Vegetarian

Description:
Ini resep super duper gampang bikinnya. Gak perlu pakai mixer, cuma butuh spatula aja untuk ngaduknya.
Carrot cake yang ini adalah hasil karya Aliyah. Dari mulai nimbang tepung, gula, sampai ngaduk dan Amirah membantu mengoles loyang pakai blueband.

Ingredients:
200 gram terigu
250 gram wortel parut (aku sih beli yang udah diparut, yang di dalam plastik)
2 telur
200 gram gula tebu
1 sdt bubuk kayu manis
1/2 sdt ragi instant
200 cc minyak goreng 0 colestrol
50 gram kacang2an cincang kasar (campur2 lebih enak)
100 gram kismis

Directions:
Dengan menggunakan spatula, aduk gula tebu,terigu, telur, minyak dan wortel parut sampai tercampur rata.
Tambahkan kayu manis bubuk, ragi, kacang dan kismis. Aduknlagi sampai semua bahan tercampur rata.
Masukkan ke dalam loyang yang sudah diolesi blueband/mentega.
Panggang di oven nomer 4 selama 30 menit. Matikan oven, diamkan 5 menit baru keluarkan cake.


Photo AlbumLiburan di Indonesia (Medan bagian 2)Sep 14, '08 2:16 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Sudah sejak beberapa waktu yang lalu, orangtua ku menjadikan sebagian rumah mereka sebagai tempat untuk anak-anak usia pra-sekolah 3 sampai 5 tahun untuk belajar Iqro. Anak-anak tersebut selain belajar huruf-huruf Hijaiyah, belajar juga doa-doa dan surat-surat pendek. Belajar menghafal rukun Islam dan lain-lain melalui lagu. Belajar berwudhu dan belajar sholat.
Ada sekitar 25 orang anak yang setiap hari dari mulai Senin sampai Sabtu, mulai jam 8 sampai jam 11 datang untuk belajar.
Ketika kami sedang berada di Medan, ada pengawas dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) Medan, yang datang untuk meninjau. Tujuannya, jika TPA ini mendapat ijin, maka akan mendapat bantuan. Bantuan tersebut terutama sangat diperlukan oleh guru TPA. Saat ini ada 3 guru, yang mengajar secara bergantian. Setiap hari ada 2 guru yang hadir. Gaji mereka tidak seberapa, karena setiap anak hanya membayar 15 ribu rupiah setiap bulan. Itu untuk gaji guru dan juga material, seperti spidol untuk whiteboard, kertas dan peralatan lainnya.
Mudah-mudahan ijin TPA nya bisa segera keluar ya, supaya guru-gurunya bisa lebih sejahtera

Photo AlbumCendolJul 8, '08 1:13 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Sering bikin cendol, dan pengen banget nge post resepnya. Baru sekarang kesampean

Bahan Cendol:

3 gelas tepung beras
1 gelas tepung tapioka
11 gelas air
2 sdt kapur (dicairkan ambil airnya)
pasta pandan
garam secukupnya
Air es yang diletakkan didalam wadah cekung

Bahan Kuah :

Santan dan garam direbus
Gula merah dicairkan

Cara buat :
Masak sebagian air dengan garam.
Sisa air dipakai untuk mencairkan tepung dan diberi air kapur dan beberapa tetes pasta pandan
Setelah air mendidih, masukkan cairan tepung
Aduk adonan sampai meletup-letup dan mengkilat
Angkat dan cetak ke dalam wadah air es.
Campur dengan kuah santan dan gula merah
Siap disantap...........slrppppppppppppp cocok untuk summer nih

Untuk ukuran gelas, bisa pakai gelas apa aja. Yang penting semua bahan diukur dengan gelas yang sama
Untuk gula merah, bisa diberi buah nangka yang dipotong dadu

Blog EntryJun 20, '08 3:04 PM
for everyone

17 Juni yang lalu, adalah hari ulang tahun ku. Pagi-pagi, Amirah, bangun tidur udah teriak, "mama ulang tahun". Terus dia langsung naik ke tempat tidur Aliyah sambil teriak, "kakak, mama hari ini happy birthday". Aliyah yang masih ngantuk, menjawab dengen bete nya " iya, kakak tau!" sambil lanjut tidur. Sementara, baby Altaf, secara baru 8 bulan, ya cuek, yang penting nenen. Hehehe..............

Pagi berjalan seperti biasa, nyiapin segala untuk anak-anak sekolah. Pas udah mau berangkat, anak-anak dan papa ngasih selamat secara borongan dan ngasih ciuman.

Jam 11, pas baru selesai jalan pagi, ada rombongan dangdut dateng , yaitu Tante Ria http://riaharun.multiply.com/,  Tante Lely http://triplehasan.multiply.com/ dan Tante Pipiet http://piethidayat.multiply.com/. Mereka judulnya ngasih kejutan di hari ulang tahun ku. Dan membawa kado, kalung Swarovski  (bisa di lihat di foto di bawah, sudah di pakai). Terimakasih buat 3 tante di atas plus Tante Ema http://callistaleandra.multiply.com/, Tante Fatma http://fatmaari.multiply.com/ Tante Rahma http://rahma70.multiply.com/ dan Tante Ika http://novarika.multiply.com/ 

Jam 1 an Papa nelpon, ngasih tau, anak-anak biar doi yang jemput. Jam 4 an anak-anak sampai rumah  sambil bawa 2 kotak kue. Kue yang pink menurut anak-anak adalah kado ulang tahun. Pas ditanya, kenapa kadonya kue, mereka bilang, "papa enggak tau mau kasih mama kado apa". Loh, kok enggak tau, mama dikasih berlian juga udah senang kok (komentar ini hanya di dalam hati, red). Yang coklat, adalah kue ulang tahun.

Sebelum potong kue, anak-anak nyanyi lagu selamat ulang, pakai bahasa prancis loh. Selidik punya selidik, yang pengen kue ternyata anak-anak hehehe.........

Makasih Pa, makasih anak-anakku, dan makasih buat semua ucapan selamat dan doanya.

 

 

 

Blog EntryMay 23, '08 3:16 AM
for everyone

Selasa, 20 Mei 2008 sekitar jam 10-an ada missed call dari bujing Rahma dan ada pesan di voice mail yang minta aku segera menghubungi beliau , begitu dengar pesan. Dalam hati bertanya-tanya, ada apa ya, kok nadanya seperti penting sekali.

Aku segera telpon ke bujing Rahma. Dan beliau ngasih tau, kalau trainer ESQ dan kru mau mampir di Brussel malam itu dan ingin sekali ber silaturahmi dengan alumni ESQ Belgia.

Gerak cepat, kami segera menghubungi alumni yang lain untuk menyampaikan kabar ini. Tempat berkumpul adalah di kediaman bujing Rahma dan Uda Ucok Siregar

Jam setengah sembilan malam tamu yang ditunggu-tunggu tiba. Pak Samsul Rahman (trainer), Mas Jaya Nurhana (asisten trainer), Mas Eko (sound enginer), Mas Yusuf , Mas Syafei, Teh  Oom, Mbak Nungke dan Mbak Etika (istri Mas Syafei).

Acara awal adalah makan malam bersama dan dilanjutkan dengan sholat Maghrib berjamaah. Betul-betul indah suasana kebersamaan yang selalu dengan mengingat Allah swt. Kemudian kami kembali saling memperkenalkan diri. Pada kesempatan ini Pak  Samsul menyampaikan pesan dari Pak Ary Ginanjar dan juga menyampaikan perkembangan pesat ESQ saat ini, baik di tanah air maupun di mancanegara.

Ternyata pada hari tersebut adalah hari yang bersejarah bagi ESQ, karena tepat pada tanggal 20 Mei yang juga kita peringatin sebagai Hari Kebangkitan Nasional, Menara ESQ 165 yang berada di TB Simatupang, Jakarta diresmikan.

Acara ditutup dengan membaca Al Fatihah dan Asmaul Husna. Betul-betul pertemuan yang menyentuh dan penuh rasa kebersamaan. Seperti kata Pak Samsul, datang ke Brussel seperti datang ke rumah sendiri. Dan kami juga, menyambut kedatangan mereka, seperti menyambut kedatangan saudara sendiri.


Blog EntryMay 16, '08 8:15 AM
for everyone

Tadi pagi dapat berita duka. UwakTahamrin Poeloengan telah berpulang. Rasanya tidak percaya ketika terima sms dari Mama dan Dedek. Pas baca sms, tanpa terasa airmata mengalir tak terbendung. Sedihhh.............banget

Aku langsung telpon Ardi, anak uwak yang kedua.Ardi sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Ardi bilang kalau uwak agak sesak napas dan dibawa ke rumah sakit.

Setelah telpon Ardi, aku langsung telpon Arman  anak yang uwak yang bungsu, yang berada di rumah sakit.Gitu tersambung, kami berdua langsung nangis. Uwak Elly sedang di ruangan lain, jadi aku belum sempat bicara.

Setelah adikku Lena berada di rumah sakit, aku telpon ke hp nya dan bicara dengan uwak Elly. Betul- betul tak tertahan air mata, apalagi disaat uwak Elly bilang," Ninda, uwak laki-laki udah pergi duluan".Aku langsung menangis tersedak-sedak.

Masih segar di ingatan, waktu pertama kali ´kost` di rumah uwak di Sukajadi. Jadi anak perempuan tunggal (anak uwak 3 orang, laki-laki semua).

Setelah aku menikah dan pindah ke Spore, uwak Thamrin dua kali datang ke apartment kami. Masih ingat betapa senangnya aku, karna uwak datang dan kami makan di restoran (alasan supaya tidak masak), dan uwak juga tau banget kalau saat itu aku belum bisa masak. Kali kedua uwak datang ketika Aliyah, anakku yang pertama, berusia 6 bulan. Jadi pertama kali Aliyah belajar makan makanan padat, disaksikan Opung Gendut (panggilan sayang cucu-cucu ke uwak Thamrin).

Terakhir ketemu Uwak , akhir tahun 2006, bulan Syawal. Kami ke rumah uwak di Bogor.

Selamat jalan wak. Saya tidak bisa membalas semua kebaikan, kesabaran dan semua yang telah uwak berikan ke saya. Hanya doa yang bisa saya panjatkan.Semoga Allah Swt memberikan uwak tempat yang terbaik disisiNYA

 


ReviewReviewReviewReviewMar 6, '08 8:22 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Andrea Hirata
Baru selesai baca 3 buku karangan Andrea Hirata, yang dikirim kak Lily dari Palembang.

Ketika baca pujian dari para pembaca yang notabene orang-orang top di tanah air, di halaman kedua, aku langsung jatuh cinta dengan buku-buku ini.

Menceritakan bagaimana beratnya tantangan dan cobaan umat manusia dalam menuntut ilmu. Sehingga harus membanting tulang, bangun pagi, mengayuh sepeda puluhan kilometer.

Terharu, tertawa, tersenyum dan menitikkan air mata ketika membaca buku-buku Andrea Hirata ini.

Banyak pesan dan nasehat yang pantas kita renungkan. Dan Andrea Hirata atau Ikal, tidak sedikitpun menyampaikannya dengan nada menggurui apalagi memaksa.

Selesai membaca buku-buku ini, aku langsung merasa malu,kalau masih terus mengeluh, komplain atau bahkan tidak bersyukur dengan apa yang ada dalam hidupku.

Buku yang amat sangat pantas dibaca


Blog EntryJan 29, '08 6:46 AM
for everyone

I'm not a writer and this is the first blog I ever wrote. I don't know how or what to write. I'm a mother of 3 gorgeous children, Aliyah , Amirah and Altaf. A wife of a loving husband, Lolotan. Currently we live in Brussels, Belgium.

That's all what I can write for now.Hope that next time will be better.